
sumber gambar : https://www.rri.co.id/hiburan/965234/novel-negeri-5-menara-karya-ahmad-fuadi
Judul Buku : Negeri 5 Menara
Penulis : Ahmad Fuadi
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal halaman : 423 halaman
Tahun Terbit : 2009
Penulis Resensi : Sulthan Fathir Al Hafizh
Negeri 5 Menara adalah novel pertama karya Ahmad Fuadi. Ia adalah seorang wartawan Majalah Tempo kelahiran Bayur Maninjau, Sumatera Barat yang juga merupakan seorang penerima berbagai beasiswa seperti Fulbright Scholarship untuk melanjutkan pendidikan jenjang S2 di Media and Public Affairs, The George Washington University, Amerika Serikat.
Novel yang ia tulis ini berkisah tentang lima sekawan yang dijuluki Sahibul Menara yang terdiri dari Alif, Baso, Raja, Atang, juga Dulmajid mengenai perjalanan petualangan mereka menjalani proses pendidikan di Pondok Madani (PM)
Cerita ini sendiri memang sangat lekat dengan kehidupan penulis, sebagaimana diketahui bahwa penulis pernah menyelesaikan pendidikan menengahnya di salah satu pondok pesantren yang sangat masyhur di daerah Ponorogo, Jawa Timur. Karena itu, penulis sangat piawai dalam menulis buku ini terlihat dari tulisannya yang sangat mendalami dan menguasai inti cerita.
Dalam buku ini, tersaji cerita-cerita yang menyiratkan pesan-pesan kehidupan yang sangat berkesan bagi kehidupan pembaca. Pesan pesan yang disampaikan sama sekali tidak menggurui, dan pembaca dibiarkan mengembangkan imajinasinya, bereksplorasi dan mengambil memetik pesan dalam versinya sendiri.
Pembaca khususnya mungkin yang belum pernah menjalani kehidupan dunia pesantren seperti yang diceritakan dalam buku ini, dibuat penasaran dengan kehidupan di kampus peradaban 1001 malam ini. saking serunya saya sendiri bahkan masih suka membaca kesekian kalinya walaupun sudah pernah menamatkan buku ini.
Kelebihan dari buku ini, desain kovernya yang menarik membuat pembaca penasaran sehingga tidak sabar untuk menyelasikan novelnya hingga akhir. Istilah istilah yang digunakan disini juga cukup banyak, seperti istilah bahasa arab yang lumrah digunakan anak-anak pondok, namun istilah-istilah itu dijelaskan hingga pembaca mengerti di bagian catatan kaki ataupun di bagian lain dari buku ini.
Pada saat pertama kali saya membaca buku ini, saya merasa ada alur yang meloncat. Namun setelah beberapa waktu saya meminjam buku itu kepada teman saya, membacanya, dan lebih menghayati lagi saya baru menemukan yang dimaksud dalam buku ini.
Fuadi membuat dua buah buku lanjutan dari buku ini yang berjudul Ranah 3 Warna (2011) dan Rantau 1 Muara (2013) yang keduanya sama sama menceritakan perjuangan Alif dalam meniti karir dan masa depannya. Novel ini bisa dibilang berjenjang dan dapat dibaca sesuai dengan umurnya.
Buku ini telah diangkat kedalam film layar lebar pada tahun 2012, juga buku lanjutannya yaitu Ranah 3 Warna pada 2021.
Terakhir, uku ini sangat saya rekomendasikan karena buku ini kaya akan nilai-nilai kehidupan yang bermutu sehingga dapat menjadi inspirasi dan bahan motivasi bagi pembaca.
