Cerita Hikmah:Analogi Matahari dan Bintang

Dikisahkan bahwa pada suatu hari hiduplah seorang murid yang yang sangat nakal, dan bermasalah di sekolahnya. Ia seringkali terjerat kasus di sekolah,... bagaimana kelanjutannya, yuk baca ceritanya!

Dikisahkan bahwa pada suatu hari hiduplah seorang murid yang yang sangat nakal, dan bermasalah di sekolahnya. Ia seringkali terjerat kasus di sekolah, orangtuanya pun, entah sudah berapa kali dipanggil oleh kepala sekolah. Dirinya pun, hampir dikeluarkan dari sekolah. Tentu, teman-teman dan hampir seluruh warga sekolah yang lainnya membenci si anak nakal ini. Namun ternyata, ada seorang guru di kelasnya yang sangat berbaik hati, dan bahkan ia mengaku, bahwa ia tidak merasa jengkel, atau kesal sama sekali dengan si murid ini. Guru itu mengajarkan si murid dengan sangat tulus dan penuh kasih sayang. Meskipun, di kelas anak ini pun seringkali membuat kekacauan.

Tahun demi tahun pun berlalu, si anak yang dulunya nakal ini kini telah menjadi orang yang sukses, dan terpandang. Ia bahkan menjadi seorang presenter terkenal yang membawakan banyak acara televisi.

Hingga pada suatu saat, saat sedang membawakan acara di suatu studio stasiun televisi, tanpa ia sangka, sang guru yang menyayanginya dulu saat masih berada di bangku sekolah, hadir secara langsung menonton acara yang dibawakan oleh murid kesayangannya itu. Saat mengetahui sang guru hadir, murid itu pun secara spontan mengundang sang guru ke atas panggung dan melakukan bincang asyik.

Mereka berdua pun membicarakan masa-masa ketika sang murid masih bersekolah dulu. Hingga pada suatu saat, murid ini bertanya, “Pak, sebenarnya dulu kesalahan saya sebanyak apa sih pak?”

Sang guru pun bertanya, “Kesalahan kamu dulu, banyak banget nak, seperti bintang-bintang, sampai tak terhitung.”

Murid yang bertanya itu kaget. Namun ia masih mencoba merasa tenang di hadapan ribuan penonton setianya itu. Murid itu lanjut bertanya, berharap mendapatkan jawaban yang membuatnya bisa bangga, “Lalu, Pak, saya kan enggak mungkin salah terus dong Pak. Kalau kebaikan saya sebanyak apa dong Pak?”

Gurunya menjawab lagi, “Kalau kebaikanmu nak, seperti matahari.”

Sang muri merasa tambah bingung.

“Pak, kalo dulu saya banyak salah, terus kenapa Bapak sayang banget sama saya?”

“Kesalahanmu memang banyak banget nak, seperti bintang-bintang yang bertaburan di langit. Sedangkan kebaikanmu, memang seperti matahari yang cuma satu di alam semesta ini. Tapi, nak, coba pikirkan, ketika pagi tiba, dan matahari muncul maka miliaran triliun bintang-bintang itu tidak ada kan? Coba, kamu pernah lihat ada bintang di pagi hari?”

Seisi studio tertawa ringan.

“Ada sih pak, bintang. Di lemari saya, saya tempel stiker bintang..”

Kali ini suara tawanya makin keras, dan diiringi tepuk tangan.

“Begitulah, nak, meskipun banyak sekali kesalahanmu, namun kamu selalu mencoba memperbaikinya. Walaupun sering terulang lagi dan terulang lagi. Saat kebaikanmu muncul, kenakalanmu tertutup semua, seperti hadirnya matahari. Itulh yang membuat Bapak salut sama kamu.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *